Lingkungan Albertus Agung Pulutan

Pada tanggal 23 Desember 1910, dua anak yang menginjak usia remaja dipermandikan di Gereja Katolik Santo Yakobus Klodran Bantul oleh Pastor V. Strater, SJ. Mereka adalah kakak beradik yang bernama Petrus Sapto Wiyono dan Paulus Danuri, putra ke-2 dan ke-3 keluarga Bapak Iman Dimejo dan Ibu Tuginem.

Tahun 1946 orang tua kedua anak tersebut menyusul dipermandikan, maka mulailah ada salah satu Keluarga Katolik di kampung Pulutan. Seiring perjalanan waktu, benih iman Katolik mulai bersemi dari keluarga, kerabat dan tetangga dekat.

Meski sebagai salah satu tokoh masyarakat di kampung Pulutan sebelum dipermandikan dengan nama Sebastianus Iman Dimejo dan Maria Magdalena Tuginem, keluarga dan kerabat dekatnya tidak luput dari hambatan dan rintangan dalam kehidupan bermasyarakat. Perlakuan diskriminatif, cemooh terhadap ajaran agama Katolik sebagai agamanya kaum penjajah harus diterima dengan lapang dada.

Kondisi demikian tidak mengendorkan semangat dan iman umat Katolik untuk menjalankan kehidupan kerohaniannya. Dengan bimbingan serta binaan dari Gereja Paroki Santo Yakobus Klodran Bantul bersama kring Cepit, Umat Katolik Pulutan mengungkapkan dan mewujudkan iman Katoliknya melalui kegiatan-kegiatan dalam peribadatan/doa kelompok, mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja, melibatkan bersma-sama umat kring Cepit dalam melaksanakan tugas-tugas kegerejaan.

Berkat ketekunan dan melalui ujian, hambatan dan rintangan umat Katolik Pulutan ibarat buah yang matang, yang akan menjadi sebuah lingkungan ketika tahun 1988 umat Pulutan mendapat tambahan warga Katolik dari warga Perumahan Pendowo Indah yang lokasinya berdekatan dengan Pulutan.

Tahun 1991 dengan berbagai pertimbangan, masukan dan potensi yang ada, umat mencoba untuk membentuk lingkungan tersendiri. Dikarenakan ketika kring Cepit berubah menjadi wilayah Maria Tak Bernoda sudah terdapat 3 lingkungan yaitu Lingkungan Thomas, Lingkungan Lukas dan Lingkungan Mathias.

Dengan ijin dari paroki dan wilayah MTB maka dibentuklah baru yang ke-4 bergabung ke wilayah MTB dengan nama pelindung Santo Albertus usulan dari Bapak Agustinus Suyud yang disepakati oleh para umat.

Setelah mendapat arahan dari Romo Paroki Gereja Santo Yakobus Klodran Bantul yang pada waktu itu dijabat oleh Romo V. Karta Sudarma, Pr. Nama pelindung lingkungan ditambah menjadi Santo Albertus Agung yang disahkan pada tanggal 15 November 1991 sekaligus merupakan hari jadi lingkungan.

Dinamika mudika merupakan salah satu kekuatan yang ada dalam lingkungan Santo Albertus Agung Pulutan. Kekuatan lain yang dimilikinya adalah semangat Santo Pelindung.