Santo Pius X Kweden

Kira-kira pada tahun 1970 lingkungan Kweden masih menggabung dengan lingkungan Bantul Timur, lalu bergabung dengan lingkungan Nogosari. Pada tahun 1990-an, terjadi pemekaran lingkungan saat Romo VM. Kartasudarma, Pr menjadi Romo Paroko Santo Yakobus Bantul. Sehingga umat lingkungan Kweden dipisah dari lingkungan Perumahan Rakyat dan Nogosari. Oleh Romo VM. Kartosudarmo, Pr, lingkungan Kweden diberi nama pelindung Santo Pius X. Pada waktu itu, tokoh yang membuka jemaat Katolik di Kweden dan sekitarnya adalah Sastro Giman, Sastro Karto Wiyono dan Kawi. Di antara tokoh-tokoh tersebut, Bapak Jumrat memegang peranan penting dalam lingkungan. Beliau adalah Ketua Lingkungan pertama.

Uniknya lingkungan Santo Pius X adalah semua umat bisa dikatakan satu keluarga karena masih memiliki hubungan saudara. Hal ini bisa dipahami lantaran hamper semua umat adalah penduduk asli, sehingga berasal dari leluhur yang sama.

Keunikan yang lain, umat lingkungan Santo Pius X mempunyai kebiasaan sembayangan lingkungan setiap Jumat malam. Kebiasaan ini merupakan warisan dari leluhur lingkungan, yaitu Bapak Jumrat. Santo Pelindung lingkungan Pius X diperingati setiap 21 Agustus.