Sejarah

                Perjalanan sejarah Paroki Santo Yakobus tidak bisa dilepaskan dari peran Pastor Henri van Driessche, SJ. Beliau adalah seorang misionaris dari Belanda yang memiliki kulit putih, badan tegap dan suara lantang, namun kaki sebelahnya kurang sempurna. Beliau adalah misionaris yang ikut ambil bagian dalam merintis iman katolik di Yogyakarta. Dengan tekun beliau mempelajari budaya dan bahasa Jawa. Alhasil, berkat kefasihannya dalam berbahasa Jawa dan kerendahan hatinya untuk ajor-ajer dengan masyarakat Jawa, maka jumlah baptisan di Yogyakarta meningkat pesat pada tahun 1913-1919. Pada tahun 1919, setelah perang dunia pertama berakhir, Pastor H. van Driessche, SJ menyebarkan kabar gembira di luar kota Yogyakarta. Wilayah yang dijangkau yaitu Srandakan, Jodog, Mangir, Pajangan, Bantul, Karang, Pandak, Gumulan, Nogosari, Imogiri, dan Mrisi.

               Tepatnya pada tanggal 11 Juni 1919, seorang bayi dibaptis secara darurat oleh seorang perempuan bernama Theresia Soertini. Bayi laki-laki itu bernama Antonius Kasmin. Namun demikian, sangat disayangkan bahwa bayi itu hanya berumur satu hari, sebab sehari setelah dibaptis, dia meninggal dunia. Nama bayi inilah yang tercatat dalam buku baptis I, halaman 1, nomor 1. Tahun 1920, empat orang anak dari dua keluarga di Pajangan, Bantul menerima sakramen baptis. Nama keempat anak tersebut adalah R. Godfried Soengkono, R. Stephanus Sisi Soekemi, Rr. Maria Soekesi, dan Rr. Mariana Soekesi. Keempat anak tersebut dibaptis oleh Pastor Driessche, SJ.

                Pada dasawarsa pertama sejak kehadiran Pastor Driessche, SJ, pewartaan iman di Bantul tidak begitu lancar. Hal ini nampak dari jumlah baptisan di setiap tahunnya yang hanya berkisar lima orang saja. Baru pada dasawarsa kedua muncul tokoh-tokoh umat yang membantu Pastor dalam berkarya. Pada saat itulah mulai berdiri sekolah-sekolah Katolik. Tokoh-tokoh umat yang muncul ialah Bapak R. Paulus  dari Imogiri, Bapak Yohanes Jodiryo dari Tajemen, bapak Agustinus Darsosentono dari Cepit, Bapak Sastrautama dari Ngimbang, Bapak Markus Mupadi Sumandar yang ikut merintis berdirinya Standaart School di Bantul, dan Bapak Bernardinus Supadi Harjonodipuro. Jumlah umat bertambah dengan cepat karena setiap pengasuh di sekolah dasar katolik diharuskan mengajar agama di desa-desa sekitarnya.

                Pada tahun 1930, pelayanan iman di Bantul ditangani oleh Pastor Fransiskus Xaverius Strater, SJ. Pastor yang berbadan kecil, lincah dan senang bersepeda jarak jauh ini mendapat simpati masyarakat di mana-mana. Kehadirannya menggerakkan iman umat, sehingga jumlah baptisan meningkat menjadi sekitar 50 orang per tahun. Pada tahun 1933, jumlah baptisan mencapai 100 orang dan untuk pertama kalinya diselenggarakan pula penerimaan sakramen penguatan. Pada tahun-tahun itu situasi perekonomian dunia sedang tidak menentu sehingga banyak pabrik gulung tikar. Melihat situasi itu, Pastor F. Strater, SJ membeli bangunan milik seorang administratur pabrik gula yang dijual murah untuk dijadikan tempat beribadat. Bangunan yang besar dan mewah ini memiliki lantai marmer, berdinding kaca dan pada bagian sampingnya terdapat kamar, garasi dan dapur. Bentuk bangunan ini memang tidak menggambarkan gereja, namun luas bangunan ini sangat memungkinkan sebagai tempat berkumpul umat. Bangunan ini kemudian dilengkapi dengan ruang pengakuan dosa, altar, patung-patung para kudus, dan tikar sebagai tempat duduk.

                Pada masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia (1937-1945), bangunan Gereja Bantul disita. Bahkan, gedung gereja sempat dibongkar karena akan dimanfaatkan sebagai rumah sakit. Sejak gedung gereja Bantul tidak dapat digunakan, pelayanan umat di Bantul ditangani oleh Rm. Reksoatmojo, SJ. Perayaan ekaristi pun diselenggarakan di rumah salah satu umat, yakni di rumah Bapak H. Harjowinoto di Badegan, Bantul. Pada tahun 1947, pembinaan iman umat dilanjutkan oleh Romo A. Brotowiratno, SJ dan Romo Th. Pusposugondo, Pr.

                Pada tahun 1952, pembinaan iman umat dilayani oleh Pastor Y. van Leengoed, SJ. Tidak hanya membangun iman umat, Pastor Leengoed, SJ juga merintis pembangunan gedung gereja yang sempat hancur pada zaman Jepang. Pada perayaan Minggu Palma, 29 Maret 1953 pembangunan gereja pun selesai dan diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Gereja ini memilih nama pelindung Santo Yakobus. Sejak saat itu pula, pelayanan iman umat dipercayakan kepada Romo E. Hardjowardoyo, Pr.

                Pada tahun 1955, pelayanan iman umat dilayani oleh Rm C. Rommens, SJ dan beliau merintis rehabilitasi gedung gereja. Rehabilitasi ini dilaksanakan dengan modal sebesar Rp. 60.000,00 dari Vikariat Apostolik Semarang serta dana partisipasi umat. Rehabilitasi gedung gereja selesai pada tahun itu juga. Untuk kedua kalinya, gedung gereja diberkati kembali pada 15 September 1957 dalam misa kudus sekaligus perayaan penerimaan komuni pertama.

                Pada tahun 1958, pelayanan iman umat dilayani oleh Pastor Antonius Mulder, SJ. Beliau adalah Pastor yang mulai menetap di Bantul. Pada tahun itu pula, dalam buku baptisan tercantum istilah “Eclesia St. Yacobi” untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, tahun tersebut dijadikan acuan berdirinya gereja dengan pelindung Santo Yakobus.

                Setelah Rm A. Mulder, SJ meninggalkan Bantul, secara dinamis pelayanan iman di Paroki St. Yakobus Bantul dilayani oleh beberapa Romo, antara lain Rm Y. Notokusumo, Pr (1967-1969); Rm A. Adi Wardaya, Pr (1969-1975); Rm. Ignatius Maria Haryadi, Pr (1975); Rm. M. Suharso, Pr (1975); Rm L. Wirya Darmaja, Pr (1975-1977); Rm A. Wignyo Martoyo, Pr (1978-1979), Rm J. Bardiyanto, Pr (1979-1982); Rm FX Sumantara, Pr (1982-1990); Rm. V.M. Kartasudarma, Pr (1990-1998); Rm. Norbertus Sukarno Siwi, Pr (1998-2003); Rm. Y. Sunyoto, Pr (1998-2001); Rm Yohanes Iswahyudi, Pr (2001-2004); Rm Maternus Minarto, Pr (2003-2010); Rm Adolfus Suratmo, Pr (2004-2007); Rm. Patricius Hartono, Pr (2007-2012).

                Peristiwa sejarah Paroki St. Yakobus Bantul yang tidak bisa dilupakan adalah terjadinya gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006 yang melanda Kabupaten Bantul dan sekitarnya. Gempa bumi ini menjadikan gedung gereja tidak layak dipakai lagi. Bagian belakang gereja, yakni belakang altar roboh dan sebagian besar dinding tembok gereja rusak berat. Hampir selama enam bulan umat Paroki Santo Yakobus Bantul merayakan Ekaristi di lapangan tenis, samping gereja.

                Mulai Januari 2007, kegiatan peribadatan dilakukan di Gereja darurat yang terbuat dari bambu. Daya tampung gereja darurat ini kurang lebih 500 orang. Pada tanggal 1 Januari 2009 (malam tahun baru) telah dimulai pembangunan gedung gereja dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Vikjen Keuskupan Agung Semarang Rm Pius Riana Prabdi, Pr. Pembangunan gedung gereja berjalan lancar atas dukungan Keuskupan Agung Semarang, bantuan para donatur dan partisipasi umat. Oleh karena itulah, pada tanggal 27 Desember 2009 bangunan Gereja diberkati oleh Mgr. Ignatius Suharyo dan diresmikan oleh Bapak Idham Samawi, Bupati Bantul.

                Dalam periode selanjutnya, penggembalaan umat di Paroki Bantul dilanjutkan oleh Rm. FX Suhanto, Pr (2010-2017); Rm Antonius Dadang Hermawan, Pr (2012-2014); Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr (2014-2017); Rm. Augustinus Toto Supriyanto, Pr (2017-sekarang); Rm Agustinus Joko Sistiyanto, Pr (2017-2019); Rm Paulus Tri Ardhianto, Pr (2018-sekarang).